Dia tempat bergantung segala sesuatu part 1

Sayang sekali, hanya beberapa orang saja yang tau bagaimana aku pra sidang. Jadi, aku putuskan untuk menulis disini saja.
Ah.. sekali lagi bukan untuk mengumbar hingga terpeleset dalam jurang..
Hanya ingin berbagi kepada orang-orang yang aku cintai kala ingatan ini tak lagi mampu dikeluarkan dengan lisan lantaran telah tertutup oleh kisah lain yang lebih menekajubakan….
Benar-benar sungguh diluar dugaan, dan sangat dinamis.
Beginilah kisahnya….
Memang sudah tidak ada harapan aku bisa foto bareng pakai toga sama teman-teman sejurusan bulan oktober 2014. Ya, keputusan aku sudah bulat dengan prediksi dan segala konsekuensi yang terjadi.. karena memilih dengan kesanggupan konsekuensi adalah jiwa yang merdeka. Aku tidak mau diperbudak gengsi, toh gensi tak menjaminmu memiliki kehidupan yang layak dikemudian hari kan?
YA.. aku memilih jalur lambat.. dan terasing..
GITU BANGET BAHASANYA DEH…
Secara atuh….
Aku pilih e-track (Entrepreneur Track) akhirnya ga lulus bareng geng gong kerena mesti bersenang-senang dengan anak-anak yang lucu dan menggemaskan… pun akhirnya tak seorangpun pesidang bagi wisudawan oktober yang aku temui. Silent reader banget lah di group. Disaat semua menggalaukan dosbing dan TA mereka, sidang, dan persiapan wisuda, maka aku hanya terpana naik halilintar… mesem-mesem kaya nano-nano, nona-nona. Dengan terengah-engah aku paksakan meski harus meninggalkan anak-anakku dirumah untuk mengahdiri teman-temanku yang wisuda di Sabuga. Belum lagi, semester pendek itu aku ngambil kuliah e-track 4 sks. YA.. PRS SEMUAAAAAAA… kecuali aku dan faisal… tadinya diapun juga mau Prs… hiks… alhhamdulillah ga jadi… akhirnyaaaaaaa… disaat yang lain libur panjang, aku masih harus ngampus seorang diri, karena faisal juga jarang masuk , harus temani kakeknya yang sakit, dan dirinya pun lagi sakit. Alhasil, setelah mengendarai motor selama hampir 1 jam menuju kampus gajah tercinta, aku harus mengahdapi 2 orang dosen dan satu orang tutor seorang diri di dalam kelas.. (EPIK MEMANG, kelas pipiaipi, yang kualiahnya seperti sidang sarjana 2x seminggu selama dua bulan brooo) yang marahnya adalah sayang, tekanannya adalah agar aku terus bersemangat, sindirannya adalah pelecut. Sungguh, bila saja pondasi niat saat keputusan megambil e-track tidak mantap, tentu aku sudah kabur dan prs seperti teman-teman yang lain yang lebih memilih magang atau liburan.. Ya! Inilah liburanku.. magangku (biarin, diperusahaan sendiri kok) penuh dengan semangat membara, merdarah darah sambil ngesot percis sister cantik.
Semester ganjil 2014/2015 ini aku baru menyelesaikan 131 SKS, dan masih ada13 sks yang harus aku selesaikan. 4 sks e-track terakhir, 6 sks skripsi, dan 3 sks Teknik Seni kertas. Oh, aku baru tau rasanya menjadi seorang mahasiswa. Entahlah… karena mungkin dulu aku tak bisa terlepas dari yang namanya kengkawan yang selalu mengingatkanku tentang tugas-tugas kuliah, jadwal-jadwal kegiatan, rapat, briefing, lari-lagi karena tempat tinggalku itu seperti dari sabang ke mearuke munuju gendung pelangi itu saat mepet telat. Kini, meski harus berjam lamanya dengan motor, parkir, bisa langsung loncat ke gedung. Entahlah.. karena aku diharuskan ngambil paket untuk tidak dapat memilih kelas atau matkul yang aku inginkan.. kini, aku kebingungan dengan jadwal yang harus aku tentukan (eaaa, padahal Cuma 3 sks). Untungalah tidak pusing juga sebenernya kalau kehwatiran akan jadwal bentrok itu terjadi. Maka, aku ambil teknik seni kertas karena itu passionku.. yang selama ini aku ingin sekali masuk seni rupa meskipun tak pernah daftar ke jurusan itu. Meskipun aku akan seperti alien disana, aku tidak peduli… selama aku tak mengganggu teman-teman yang lain, aku jalani meski harus sendiri (yaiyalah.. orang temen-temen aku udah pada kerja). Ya, aku ga musti maksa-maksa temenku dari jurusan lain untuk bareng aku.. begitu pun dengan e-track yang tinggal 4 sks lagi, aku sudah pasrah bila 4 bulan semester ganjil ini harus aku hadapi dengan persidangan setiap saat. Aku sambut dengan riang gembira, agar aku bisa lulus tak menjadi pengangguran, justru membuka lapangan pekerjaan… Agar bisnis ini terus berlanjut, bukan hanya sebagai syarat kelulusan.
Hihi, diluar dugaan.. yang ambil e-track jadi banyak lagi… aku kira hanya akan sendiri…
Tapi ternyata dosennya diganti..
Sedihlah… meskipun pak Nazmi selalu mencercaku di kelas.. tapi aku keluar kelas dengan semangat membara karenanya, secercah harapan dan cahaya masa depan menjadi mengkilau aku lihat dengan sorak sorai bergembira.. Meskipun pak Rendra sering mematahkan argument dan usahaku yang terlihat seperti saras kosong-kosong delapan, ternyata aku hanyalah pahlawan kesiangan yang harus selalu bangun lebih awal lagi-lagi-lagi… Dan aku merindukan ibu lina yang tau segalanya tentang aku.
Kini, aku merasa sangat keilangan mereka… Jadi semester itu adalah terakhir kalinya aku besama mereka… ohh.. Sungguh… Merekalah dosen terbaik yang pernah aku temui di kampus gajah ini. Tidak hanya memberikan kuliah, tapi menyelesaikan masalah REAL yang sedang aku hadapi. Sungguh terasa, antara ilmu dan amal sangat erat kaitannya… jelas outputnya.. meskipun aku harus bergaya ngesot persis sister cantik.
Dosen pengganti tidak kalah kece, karena sangat santai… aku agak sedikit sedih, karena merindukan ibu lina, pak rendra, dan pak nazmi yang menggebu-gebu seperti saat orasi…
Lagi-lagi diluar dugaan… aku merasa semakin menjadi mahasiswa ketika kuliah pak Tonton, sang dosen MBA yang ujug-ujug ngajar kami itu begitu tenang… tak ada teror mengenai bisnisku kecuali pak nazmi sesekali menyelipkan meski tak sebanyak dulu. Dan kuliah itu jarang sekali di kelas, kita jalan-jalan, nonton film, mendengarkan kisah. Oh.. sungguh senang.. amat senang,, bangun pagi-pagi sungguh senang… Kami jalan-jalan hampir tiap minggu kesana kemari menemui CEO dan Owner bisnis yang GILAGILAAN! Diizinkan masuk ke kelas MBA.. Nonton film di kelas.. Mendengarkan bisnis Pak Nazmi dan Pak Tonton.. Barulah semua kejadian aktual yang kami hadapi dikaitkan dengan materi kuliah… Bukan! Kami bukannya mendengarkan materi lalu mencari fakta yang sesuai seperti pada umumnya… Tapi kami benar-benar merasakan ruh dan jiwa semangat 45 para entrepreneur sesungguhnya secara langsung dari mulut mereka… Senang sekali bisa bertemu dan berinteraksi dengan para praktisi….
YA! Ilmu tanpa praktik itu kaya nelen angin.. aku suka iri dengan teman-temanku dijurusan lainya yang tiada pertemuan tanpa kata, “aku mau ke lab dulu yaa…” Tapi aku rasa ini lah laboraturium social yang sesunggunya… menghirup fenomena sekitar kita… Melihat tanda-tanda kebesara-Nya.. Sungguh bertebaran..
Lain kisah dengan kuliahku di seni rupa… oh, aku merasa sangat bahagia.. saat sebelum tau ada jurusan bisnis di PTN aku melirik kampus gajah ini hanya pada Fakultas Seni Rupa dan Design. Bayanganku sampai pada aku menjadi seorang artistic team dalam sebuah stasiun televisi. Dan pembuat animator sekelas Disney. Dan itu hanya sekelebat musnah tanpa ambisi dan azzam. Hanya ingin saja, seperti melihat poster makanan enak.. karena perut sudah kenyang..
Oh.. sungguh diluar dugaan.. justru di jurusan inilah aku menjadi artistic team dalam sebuah pentas drama menjadi tugas besar tingkat pertama kuliah… menjadi seorang lighting designer.. kaya Dj lampu gitu deh… dari mulai lampu kechild sampai lampu konser gitu deh… dan ini menjadi tugas kuliah, tanpa perlu aku menjadi event organize yang harus pandai-pandai mengatur maktu antara akademik dan non-akademik. Dan… itu semua bukan aku dapatkan di FSRD, disana tidak ada… kecuali kalau ikut unit kegiatan atau acara himpunan… dan rasanya tidak se-spsektakuler oddisey!
Dagdigdug… hari pertama aku lalui dengan perasaan meluap luap.. antara takut, malu, dan senang. Aku cari-cari studio.. bukan kelas kawan.. dan ternyata sebuah studio menjadi laboraturium juga kali ini. Huaaaa senangnya.. cukuplah laboraturium ipa itu aku dapatkan di smp dan sma.. disini aku merasakan sensasi yang berbeda… tidak ada papan tulis dan kursi yang berjajar rapi.. yang ada adalah ruangan luas seperti aula yang di sekelilingnya dipenuhi dengan noda-noda cat dan peralatan melukis, dan…. Heiiii lukisan setengah jadi itu… wow para mahasiswa seni lukis.. dan tidak ada pintu.. hanya sekat-sekat.. dan… (banyak tipe rambut idaman gue… ihiww mahasiswa gondrong..).
Oh.. sampai di penghujung semester, Desember 2014. Aku masih saja belum menyentuh #cinTA ku.
Hingga barulah aku kembali ngesot seperti sister cantik usai UAS E-track dan seni kertas.

Menuju Sidang

Nangis sesenggukan karena gak tau apa yang harus ditulis. Mentok udah gak keidean.
kaya halilintar, naik turun, takut, senang, degdegan, teriak, tertawa.
Lalu semuanya telah terlewati.
Pintu berikutnya mulai terbuka.

SIDANG!
Pengujinya Ibu Mia.. :”)

Mendengar beberapa kabar yang membahagiakan dari teman-teman adalah salah satu yang membuat aku bisa tersenum disaat hati ini menangis. Ada pula yang membuat hati menangis disaat aku tersenyum.

Sudah 3,5 tahun aku ada di bandung. Takdirnya sungguh romantis.

Gue ini sok misterius sih.
Ada izzah yang harus dijaga.
Tak perlu mengumbar semuanya, apalagi yang diumbar mengundang keambiguan.
ya… seperti kalimat-kalimat disini.

Sidang yang sesungguhnya adalah hati yang besar…
liyaumin ‘adhim……

Ayo!

Paling bisa mengalir saat menulis adalah aku ingin sampaikan sebuah pesan pada seseorang yang tak bisa kungkapkan secara lisan. Bisa jadi pula sesuatu yang telah kuungkapakan, tapi rasanya belum puas dan jelas apa maksud hati.
Atau terkadang, menulis disini adalah saat aku semestinya menulis hal lain. Stak! lalu berlari log ini kemari..
haha…

teruntuk kamu yang tersakiti

Tersakiti..
Imbuhan itu seolah-olah tak sengaja terjadi.
Sunggung, bukan sengaja kulakukan… tapi memang susunan pena ..
Takdir, akhirnya mempertemukan kita…
Sekumpulan orang-orang yang sedang mencari-cari.. dan dicari…
yang dibilang, cinta segi banyak… seperti rangkaian ikatan carbon…
ce ce ce… carli carli…

Hari ini, telah terjawab sudah apa yang sering menjadikan kita bertanya-tanya.. tak perlulah risau dengan perasaan yang kita simpan masing-masing…

Aku mungkin bukan pihak yang paling tersakiti…
tapi akulah yang dipilih untuk menentukan.. kapan efek domino ini akan aku sentuh ujungnya, atau hanya aku dan kamu yang terjatuh… berat memang… tapi dewasa dalam berfikir dan bertindak, butuh pembuktian..

Bila kau risau dengan rasa malu yang mencekam… tandanya kau masih punya iman… karena malu adalah izzah… khumaira yang merah merona…
Bila kau merasa sedih… kesedihanmu cukupkan untuk dosa-dosa yang kau perbuat… bukan sedih atas kepergiannya/ku…
Bila kau merasa kehilangan… aku tetap di bumi yang sama denganmu…
Bila kau merasa berbeda… lihat pelangi… indah kan?
Bila kau merasa takut.. takutlah bila hatimu menjadi keras.. bilakah kepergianku justru membuatmu semakin melunak saat bersimpuh dihadapa-Nya, bukakankah itu adalah mau-Nya?
Ia ingin mengingatkanmu, bahwa tangisanmu cukuplah karena kau tak mau pergi dari-Nya…

Bagiku tak ada lembaran baru…
Meski aku duduk dalam bis yang berbeda… kita akan tetap dalam tujuan yang sama kan?

laa tahzan..
innallaha ma’ana…
fa anzalahu..
sakiinatahu..
‘alaihi…

kudu-quwwat-eceu-eceu

#cinTA

Tadinya sih mau nge posting yang galau-galau… tapi ga usah la yaw… nanti kata rasul bilang.. laisa minna… bukan termasuk umatnya.. wiw ceyem…

Udah ah..
Mending cuap cuap saja..
Lupakan sejenak hal itu…
Ingat hikmah tadi pagi..
Okey…

Setelah rapat, asalnya sih mau langsung pulang.. karena rapat berikutnya sudah ada perwakilan dari tim saya..
Tapi… jadi ikut juga…

Jadi, sedikit ada yg membahas fenomena anak tpb aka tahap persiapan bersama… anak2 yang baru merasakan musim semi kampus..
Ya.. meski masa tpb saya berbeda dengan fakultas lain… tapi cukup tau deh kehebohan temen2 saya masa tpb..
Maka, kaya semasa SMA, anak kota berbondong-bondong les kesana kemari.. rela mengeluatka berjuta-juta agar lulus…
Pun dengan maaa tpb..
Buanyaaak cekali bimbel2 yg menjanjikan A.. wow.. tapi bayarnya segede aja…
How that can?
Dapet A?

Adakah yang menjanjikan proses?

I got it!

Menjanjikan proses…
Proses belajar yang baik.. Menyenangkan…
Jarang sekali nemu…

Kebanyakan tertuju pada hasil oriented…
Dan hasilnya adalah angka…
Bukan karya atau kepahaman ilmu kan kan?

#cinTA

Sepotong ****

:’)

Hai, bukankah ada sejuta alasan di sekitarmu untuk sejenak lupakan potongan itu?

Lupa itu anugerah..
Bisa juga musibah sih..
Ah.. tergantung kau meletakannya bagaimana..

Ada banyak sekali hal yg dapat membuatmu tersenyum dan menangis kan?
Potongan ini hanyalah hal yg akan mendewasakanmu…
Bangkitlah!